Loading...

Workshop Analisis Isu dan Kepenulisan Opini

Diterbitkan pada
12 Agustus 2025 13:25 WIB

Baca

Surakarta – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arjuna Fakultas Ilmu Tarbiyah (FIT) UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan workshop bertajuk “Analisis Isu dan Kepenulisan Opini” pada Selasa (12/8/2025). Kegiatan ini merupakan rangkaian Dies Natalis ke-33 UIN Raden Mas Said Surakarta dan berlangsung di Aula PPG FIT sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WIB.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 189–191, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UIN.

Ketua LPM Arjuna, Rahmanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada peserta yang hadir. Ia berharap workshop ini mampu menumbuhkan sikap kritis mahasiswa dan membuka wawasan dalam menyikapi isu melalui penulisan opini.

Pembina LPM Arjuna, Atika Triana Zulfa, M.Pd., menekankan pentingnya kehati-hatian mahasiswa dalam menyampaikan opini di tengah derasnya arus informasi. “Mahasiswa harus menyampaikan opini secara utuh dan menyeluruh, tidak terprovokasi oleh isu yang tidak jelas sumbernya,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIT Prof. Dr. Fauzi Muharom, M.Ag., yang membuka acara secara resmi, menekankan pentingnya menulis yang bermanfaat. “Tulisan yang baik dapat menjadi amal jariah bagi penulis. Mahasiswa harus melakukan tabayyun sebelum menyebarkan berita agar tidak terjebak dalam informasi menyesatkan,” tegasnya.

Workshop menghadirkan Ridwan Mahendra, S.Pd., penulis lintas media sekaligus alumni Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, Ridwan menekankan bahwa opini lebih mudah ditulis dibandingkan fiksi, dan mahasiswa memiliki peluang besar untuk menembus media.

Ridwan memberikan contoh isu yang bisa diangkat, antara lain pendidikan di era digital, kesenjangan akses, kesehatan mental siswa, evaluasi sistem ujian, hingga peran media sosial dalam pembelajaran. “Penulis opini harus memiliki etika, mengangkat isu faktual, dan menyajikan data yang kredibel,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan struktur artikel opini yang terdiri dari tesis, argumen pendukung, dan penegasan ulang. Menurutnya, opini yang baik harus orisinal, aktual, dan menghadirkan ide baru. Ridwan mendorong mahasiswa untuk langsung menulis, memanfaatkan smartphone, mengumpulkan data, dan menghindari plagiarisme.

Lebih lanjut, ia membedakan artikel populer dan opini. Artikel populer biasanya hanya berisi informasi menarik, sedangkan opini bersifat kritis terhadap isu hangat. Ia juga berbagi pengalaman menerbitkan tulisannya, mulai dari topik Ujian Nasional hingga revisi UU TNI. Ridwan menekankan pentingnya menyusun email pengiriman naskah dengan etika, meliputi sapaan, judul, deskripsi opini, serta ucapan terima kasih kepada redaksi.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Aiman Abdurohman, peserta dari LPM Arjuna, menanyakan jaminan hukum bagi penulis opini. Ridwan menjelaskan bahwa perlindungan diberikan oleh Dewan Pers, asalkan opini didukung data dan argumen yang kuat.

Aiman juga bertanya mengenai opini yang dikaitkan dengan ajaran Islam. Ridwan menjawab hal itu diperbolehkan selama menggunakan referensi valid dari ulama, Al-Qur’an, atau hadis.

Pertanyaan lain disampaikan oleh Faiz yang menyinggung rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa. Menanggapi hal ini, Ridwan menyarankan agar penulis berangkat dari keresahan pribadi, terus berlatih meski kerap ditolak redaksi, serta memanfaatkan media yang membuka ruang publikasi gratis.

Azka, peserta lain, menanyakan etika mengirimkan artikel ke lebih dari satu media. Ridwan menegaskan agar penulis tidak mengirim karya ke dua media sekaligus. Jika ingin mengirim ke media lain, penulis harus terlebih dahulu menarik naskah dari media sebelumnya untuk menjaga integritas.

Ridwan juga membagikan alamat email redaksi dari beberapa media besar, seperti [email protected], [email protected], dan [email protected], sebagai referensi bagi peserta yang ingin mengirimkan tulisan.

Workshop ditutup dengan doa bersama dan hamdalah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya terampil menulis opini, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga etika, serta berkontribusi menghadirkan gagasan yang bermanfaat di ruang publik.