Loading...

UIN Raden Mas Surakarta dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Sukses Gelar Konferensi Bersama, Dorong Transformasi Digital Pendidikan Madrasah

Diterbitkan pada
5 Juli 2025 10:08 WIB

Baca

Surakarta, 4 Juli 2025- Sebagai upaya nyata mempersiapkan calon guru yang mampu menghadapi tantangan era digital, UIN Raden Mas Surakarta bersama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sukses menyelenggarakan joint conference bertajuk "Transformasi Digital Madrasah: Menyiapkan Calon Guru MI yang Melek Deep Learning". Acara yang berlangsung di Aula PPG Gedung Fakultas Ilmu Tarbiyah yang dihadiri oleh puluhan peserta terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Membangun Sinergi untuk Pendidikan Masa Depan

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Bapak Dr. Subar Junanto, Ketua Jurusan PGMI UIN Raden Mas Surakarta, yang menegaskan pentingnya kolaborasi antar perguruan tinggi. "Kerja sama seperti ini tidak hanya memperkuat jaringan akademik, tetapi juga membuka peluang besar untuk pengembangan penelitian dan inovasi pembelajaran," ujarnya dengan penuh semangat. Sambutan dilanjutkan oleh  Bapak Khaeruni, S.Si., M.Si dari PGMI UIN Banten yang menyoroti pentingnya program MBKM dalam menyiapkan lulusan yang kompeten. "Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, kami berkomitmen mencetak calon pendidik yang tidak hanya menguasai konten akademik, tetapi juga terampil memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran," jelasnya. Sambutan diakhiri oleh Bapak Prof. Dr. Fauzi Muharrom, Dekan FIT UIN Raden Mas Surakarta, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang terlibat. "Hari ini kita telah menabur benih kolaborasi yang sangat berharga. Ke depan, kerja sama ini akan kita lanjutkan dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran pelajar, dan publikasi ilmiah," janjinya.

Deep Learning sebagai Solusi Pendidikan Bermutu

Bapak Oman Farhurohman, M.Pd, pakar pendidikan MI yang menjadi pembicara pertama yang merupakan dosen dari PGMI UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, memaparkan secara mendalam tentang konsep pembelajaran mendalam (deep learning) dan relevansinya dengan pendidikan dasar di Indonesia.  Pemateri kemudian membeberkan data terbaru yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia, lemahnya kemampuan berfikir tingkat tinggi, dan ketimpangan akses pembelajaran yang belum merata. Selain itu, perubahan struktur demografi guna mendukung indonesiaemas 2045 dan perlunya penyiapan kompetensi masa depan juga menjadi fokus pembahasan. "Pendidikan harus bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembangunan karakter dan keterampilan adaptif," tegasnya.

Beliau menjelaskan enam pilar utama pendekatan ini: (1) keterlibatan aktif siswa, (2) proses belajar berkesadaran, (3) penghargaan terhadap nilai kemanusiaan, (4) pengembangan budaya belajar sepanjang hayat, (5) integrasi teknologi digital, dan (6) pendekatan multidisiplin. Oman merumuskan deep learning sebagai pendekatan yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, hati, rasa, serta raga. Beliau juga memaparkan perubahan kebijakan penting berdasarkan Permendikbud No. 10 Tahun 2025, termasuk transformasi dari Profil Pelajar Pancasila menjadi 8 Dimensi dan integrasi Profil Rahmatan lil Alamin dalam RPP. Kerangka implementasinya mencakup empat aspek: praktik pedagogis inovatif, kemitraan strategis, pengembangan lingkungan belajar (fisik dan virtual), serta pemanfaatan teknologi digital. Mengenai transformasi peran guru, Bapak Oman Farhurohman, M.Pd menekankan perlunya perubahan menuju tiga peran baru yaitu sebagai aktivator yang memfasilitasi pembelajaran aktif, kolaborator yang membangun sinergi, serta pengembang budaya belajar. Untuk implementasi praktis, beliau memberikan panduan sistematis mulai dari identifikasi kebutuhan, desain pembelajaran, asesmen holistik, hingga penyediaan pengalaman belajar yang aplikatif. Inilah mengapa pendekatan deep learning menjadi sangat penting. Metode ini tidak hanya menekankan penguasaan konten, tetapi juga pembangunan karakter dan keterampilan berpikir kritis.

Praktik Baik dan Tantangan Implementasi

Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Dr. Suyatman, M.Pd selaku dosen PGMI UIN Raden Mas Siad Surakarta yang membagikan pengalaman praktis menerapkan deep learning di kelas. Dengan gaya penyampaian yang santai namun penuh makna, ia mengajak peserta merefleksikan makna pembelajaran yang sesungguhnya.

"Pendidikan harus dimulai dengan rasa syukur. Pilih sedikit mendalam? Atau banyak tapi dangkal? Atau banyak dan juga mendalam? Inilah pertanyaan mendasar yang harus kita renungkan," ujar Suyatman memancing refleksi peserta untuk memilih antara menjadi spesialis atau multitalenta.

Beliau menekankan tiga pilar utama pembelajaran yaitu Mindful Learning (penuh kesadaran), Meaningful Learning (bermakna), Joyful Learning (menyenangkan). Pertama, Beliau menyampaikam bahwa belajar harus memiliki manfaat nyata dan materi harus kontekstual dan terkait kehidupan sehari-hari. Proses memahami informasi melalui membaca, menonton, mendengar kemudian menguasai konten dengan menghafal dan menganalisis dan dituntaskan dengan menerapkan pengetahuan dalam tindakan nyata. Kedua, Menciptakan suasana belajar yang menarik dan interaktif sehingga memicu rasa gembira dan bahagia dalam belajar. "Dopamin yang dilepaskan saat senang akan membuat tubuh rileks dan memperkuat daya ingat" ungkap Bapak Dr. Suyatman. Beliau memberikan pesan khusus untuk calon guru: "Jangan membuat siswa stress. Kondisi tertekan justru membuat blank". Ketiga, guru perlu menciptakan kondisi nyaman dan fokus sehingga membangun rasa ingin tahu yang alami. Beliau mengungkapkan bahwa belajar sebagai kebutuhan, bukan keterpaksaan. "Proses belajar harus dilatih terus menerus sampai menjadi kebiasaan. Inilah yang membedakan pembelajaran bermakna dengan sekadar memenuhi kewajiban," tegas Suyatman.

Mengungkap Tantangan Nyata

Sesi interaktif antara mahasiswa dengan para pembicara menjadi salah satu highlight konferensi ini. Beberapa pertanyaan kritis muncul dari peserta yang mencerminkan keseriusan mereka dalam memahami implementasi deep learning. Mahasiswa dari UIN Banten menanyakan tentang kendala utama dalam menerapkan deep learning.

"Tantangan terbesar justru datang dari faktor SDM. Banyak guru yang sudah berusia lanjut dan enggan keluar dari zona nyaman. Mereka yang seharusnya menjadi ujung tombak perubahan justru seringkali menjadi penghambat karena ketidakmauan untuk beradaptasi dengan metode baru."  papar dari Bapak Dr. Oman Farhurohman. Selain itu,pertanyaan provokatif tentang posisi guru di era AI (Artificial Intelligence) dilontarkan oleh mahasiswa lainnya. Bapak Oman menanggapi dengan bijak :

"AI tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru sepenuhnya. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi. Teknologi boleh canggih, tapi pendidikan tetap membutuhkan olah rasa. Bagaimana kita memahami karakteristik unik setiap anak? Bagaimana kita menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan? Ini semua membutuhkan hati yang hanya dimiliki oleh pendidik.”

Komitmen untuk Terus Berkolaborasi Acara ditutup dengan foto bersama dan pembacaan kesepakatan bersama. Kedua universitas sepakat untuk membentuk kesepakatan khusus yang akan memantau perkembangan implementasi hasil konferensi ini.