Surakarta – Fakultas Ilmu Tarbiyah (FIT) UIN Raden Mas Said Surakarta melalui LSO BSO mengadakan seminar minat dan bakat bertema “Menumbuhkan Kreativitas melalui Integrasi Seni, Budaya, dan Pendidikan” pada Kamis (7/8/2025). Acara yang berlangsung di Aula PPG sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalies ke-33 UIN Raden Mas Said.

Seminar menghadirkan narasumber Abbet Nugroho, S.AP., Ketua PC Lesbumi sekaligus penggagas Kampung Dolanan. Kegiatan dibuka dengan tilawah Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 21–25, dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars UIN Raden Mas Said.
Dalam sambutannya, Ketua LSO BSO menyampaikan harapannya agar seminar menjadi ajang kolaborasi dan inspirasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri. Ketua pelaksana menambahkan bahwa minat dan bakat tumbuh melalui kebersamaan, bukan semata dari individu.
Wakil Dekan III FIT, Dr. Rustam Ibrahim, M.S.I., mengapresiasi kegiatan ini dan menekankan pentingnya semangat berprestasi. Ia menyinggung kontribusi LSO BSO yang tahun lalu berhasil mengantarkan FIT meraih Piala Rektor. Dekan FIT, Prof. Dr. Fauzi Muharom, M.Ag., secara resmi membuka seminar seraya menekankan pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari penguatan branding kampus di tingkat nasional maupun internasional.
Acara semakin semarak dengan penampilan lagu oleh Alifah Via Andini dari Prodi Tadris Matematika, serta dipandu secara interaktif oleh moderator Vonesia Edelwies Sandita dari Prodi PGMI.
Dalam paparannya, Abbet Nugroho atau akrab disapa Ki Sodong, menekankan pentingnya mengenali potensi diri sejak dini. Menurutnya, bakat merupakan anugerah Tuhan, namun akan berkembang bila ditopang minat dan usaha. Ia juga memperkenalkan Kampung Dolanan yang selama 12 tahun menjadi ruang edukasi permainan tradisional bagi masyarakat.
Abbet mencontohkan nilai pendidikan dari permainan tradisional seperti egrang, yang tidak hanya melatih fisik tetapi juga memiliki filosofi mendalam. Menurutnya, kearifan lokal semacam ini bisa menjadi bahan ajar maupun topik penelitian mahasiswa. Ia juga mengulas pandangan filsuf seperti Al-Farabi dan Al-Ghazali mengenai seni, serta menyoroti pentingnya pendidikan berbasis budaya untuk membentuk karakter bangsa.
“Budaya adalah identitas bangsa. Pendidikan seharusnya mampu menjadi sarana untuk memaksimalkan potensi sekaligus menjaga warisan seni dan tradisi,” ujarnya.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Salah satu mahasiswa menanyakan peran seni dalam membangun ruang aman bagi kebebasan berpendapat. Menjawab hal tersebut, Abbet menegaskan seni adalah medium ekspresi rakyat yang halus dan etis, sekaligus ruang strategis untuk melatih keberanian berpikir kritis.

Sebagai penutup, seluruh peserta diajak memainkan angklung khas Jawa Tengah membawakan lagu nasional “Padamu Negeri” dan lagu daerah “Suwe Ora Jamu”. Suasana penuh keceriaan itu sekaligus menjadi simbol kebersamaan dalam menumbuhkan kreativitas mahasiswa.
Acara diakhiri dengan doa bersama serta penyerahan sertifikat kepada narasumber. FIT berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan mahasiswa dalam mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas secara berkelanjutan.
Gali Potensi Diri, FIT Mengundang Praktisi dalam Seminar Minat & Bakat Dorong Kreativitas Melalui Seni , Budaya, dan Pendidikan.
Mitra dan Alumni, Fakultas Tarbiyah UIN Surakarta Desain Arah Strategis Jangka Panjang
1 pekan yang lalu - Umum