Loading...

Menguatkan Akar, Mewujudkan Harmoni sebagai Implementasi Pohon Moderasi Beragama bagi Civitas Akademika Fakultas Tarbiyah.

Diterbitkan pada
5 Maret 2026 10:02 WIB

Baca

Surakarta-Fakultas Tarbiyah (FATA) UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk "Implementasi Pemahaman Moderasi Beragama bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan Fakultas Tarbiyah" pada Rabu, 4 Maret 2026 pukul 16.00 WIB hingga selesai. Acara yang berlangsung di Aula PPG ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta dosen dan tenaga kependidikan guna memberikan penguatan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan kampus, baik dalam aspek pengajaran oleh dosen maupun aspek pelayanan oleh tenaga kependidikan.

Sambutan dari dekan Fakultas Tarbiyah, Prof. Dr. H. Fauzi Muharom, M.Ag., menekankan bahwa moderasi di kampus harus diwujudkan melalui sikap ramah, toleran, dan pelayanan yang adil. Beliau menyoroti pentingnya kepekaan terhadap mahasiswa disabilitas sebagai wujud nyata nilai kemanusiaan. Saat ini, FATA tengah menyiapkan infrastruktur ramah difabel, seperti jalur akses khusus, sebagai syarat menuju akreditasi internasional tahun 2026.

Rektor UIN Raden Mas Said, Prof. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., memberikan arahan dengan menyitir ayat Al-Baqarah: 195 mengenai larangan menjatuhkan diri dalam kebinasaan (tahlukah). Dalam konteks akademik, beliau menegaskan bahwa moderasi berarti bekerja secara presisi untuk menghindari kehancuran institusi. Rektor meminta para pengelola prodi melakukan mitigasi ketat terhadap masa studi mahasiswa serta memastikan produktivitas dosen melalui pemantauan akun ilmiah seperti Sinta dan Sister.

Kepala Biro AUAK, Dr. H. Musta'in Ahmad, S.H., M.H., memberikan arahan Moderasi Beragama menjadi landasan penting bagi dosen dan tenaga kependidikan untuk mengedepankan sikap toleran, saling menghormati perbedaan, serta menjaga persatuan dalam keberagaman, sehingga tercipta lingkungan akademik yang harmonis, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan serta kemanusiaan.

Dilanjutkan penyampaian inti dari Badarudin Muhammad Khadam, S.Pd.I., M.Pd. menjelaskan bahwa moderasi bukanlah pendangkalan akidah, melainkan penguatan jati diri yang berimbang. Moderasi diartikan sebagai "wasit" yang berada di posisi tengah (wasatun). Hal ini menuntut keseimbangan antara urusan privat (keyakinan) dan urusan publik (interaksi sosial). Beliau menjelaskan falsafah "Sak Madya" yang mengacu pada kearifan lokal, moderasi adalah hidup "sak madya" atau proporsional. Prinsipnya adalah "Ngono yo ngono, ning ojo ngono", yaitu melakukan segala sesuatu secara wajar tanpa melampaui batas.Inti moderasi berakar pada Akidah sebagai fondasi, Syariah sebagai aturan, dan Akhlak (Ihsan) sebagai budi pekerti baik terhadap sesame dalam pohon moderasi beragama. Empat indikator orang yang sudah moderat dalam beragama adalah komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan Adaptif terhadap Kearifan Lokal, dengan menegaskan bahwa nilai moderasi harus hadir dalam setiap helaan napas pekerjaan melalui layanan yang transparan dan tidak diskriminatif. Kegiatan diakhiri dengan doa dan buka puasa bersama sebagai simbol keharmonisan sivitas akademika.