Loading...

LSO Fordista menyelenggarakan Seminar Literasi dengan tema Menjaga Gaya Menulis Orisinal di Era Gempuran Kecerdasaran Buatan

Diterbitkan pada
11 Agustus 2025 19:12 WIB

Baca

Surakarta – Lembaga Studi Orisinalitas (LSO) Fordista sukses menyelenggarakan Seminar Literasi bertajuk “Menjaga Gaya Menulis Orisinal di Era Gempuran Kecerdasan Buatan” pada Senin (11/8/2025). Acara ini digelar di Aula PPG Fakultas Ilmu Tarbiyah (FIT) UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai bagian dari peringatan Dies Natalis ke-33.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Acara dibuka dengan basmalah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 76–82.

Pembina LSO Fordista, Bapak Fauzi Annur, M.Pd., mengawali acara dengan menekankan pentingnya membaca sebagai roh dari mahasiswa. Ia mendorong peserta untuk banyak mendengar dan menyerap informasi dari berbagai sumber, baik buku maupun media digital. “Kurang informasi akan membuat kita melempem atau gagap. Dengan membaca, kita bisa membangun metodologi berpikir agar tidak terdisrupsi oleh teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LSO Fordista menyampaikan apresiasi kepada peserta yang antusias mengikuti seminar. Ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memanfaatkan teknologi yang dapat memengaruhi eksistensi manusia.

Seminar inti menghadirkan Bapak Ajie Najmuddin, S.E., penulis sekaligus pemerhati literasi digital, dengan moderator Enggal Bagas dari Prodi Pendidikan Agama Islam. Dalam pemaparannya, Beliau mengungkap data Global Web Index (GWI) Meltwater yang mencatat 5,56 miliar pengguna internet di dunia, dengan 5,2 miliar di antaranya aktif di media sosial.

Menurutnya, teknologi membawa manfaat besar namun sekaligus tantangan serius. “Handphone seharusnya membuat lebih pintar, tapi kenyataannya justru menciptakan ketergantungan,” katanya. Beliau menilai, meski AI memberi kemudahan dan inspirasi, penggunaan yang berlebihan dapat melemahkan budaya nalar serta memicu plagiasi dan kemalasan menulis.

Beliau menekankan pentingnya etika menulis yang berlandaskan kesadaran, kebajikan, integritas, dan tanggung jawab. Kesadaran berarti memahami dampak dari setiap tulisan, kebajikan menuntut nilai kemanusiaan, integritas menekankan kejujuran dan penghargaan terhadap hak cipta, sedangkan tanggung jawab adalah kesiapan menerima konsekuensi dari karya yang dipublikasikan.

Pemateri juga membagikan empat langkah menjaga orisinalitas menulis di era AI. Pertama, melakukan eksplorasi melalui membaca, riset, diskusi, dan refleksi agar tidak bergantung pada mesin. Kedua, memilih sudut pandang menarik. Ketiga, menulis dengan sentuhan humanisme. Keempat, terus belajar dan berinovasi. “Orang bodoh adalah yang berhenti belajar. AI akan kalah dengan orang yang terus mengasah diri,” tegasnya.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Atta, mahasiswa Ilmu Lingkungan, menanyakan cara memanfaatkan AI secara positif. Ajie menegaskan bahwa teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu, misalnya mencari referensi, asalkan tetap menekankan kebaruan ide.

Asobah, mahasiswa PAI, menyinggung penggunaan AI sebagai editor tulisan. Menurut Ajie, hal itu diperbolehkan selama tetap menjunjung etika menulis. “AI bisa jadi filter atau pemercantik tulisan, tapi standar penulisan tetap harus dikuasai penulis,” jelasnya.

Sementara itu, Imam, mahasiswa PAI lainnya, menanyakan strategi agar tulisan bisa menembus media bereputasi. Ajie menyarankan penulis memahami gaya selingkung media dengan membaca karya yang sudah terbit serta menjaga motivasi meskipun menghadapi penolakan.

Seminar ditutup dengan doa bersama. Melalui kegiatan ini, LSO Fordista berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk menulis secara orisinal sekaligus bijak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.